Sang nasionalis Mbah Moen membabarkan tentang terbentuknya negara merdeka yang kini kita nikmati.
“Kalau nggak ada merah tidak ada semangat, tidak ada darah. Kalau nggak ada putih tidak ada keikhlasan, tidak ada kekuatan”, ungkap tegas Maimun Zubair. Iya itu cerita warna bendera merah-putih yang akan terus berkibar di tanah air tercinta.
Filosofi penuh makna itu disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat yang sudah hidup dari zaman penjajahan hingga menjadi saksi dari kemerdekaan negara ini. Iya, kalimat lantang itu diucapkan saat Maimun Zubair mengisi acara di suatu tempat.
Kiai mashur itu kembali mengingatkan sejarah kemerdekaan negara ini kepada seluruh warga negara Indonesia. Pancasila menjadi pemersatu di tengah keberagaman yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi pegangan untuk menciptakan kerukunan diantara banyaknya perbedaan. Kiai yang akrab dipanggil Mbah Moen itu memang seorang warga negara yang nasionalis. Hal itu disampaikan langsung oleh Ganjar Pranowo.
Katanya Mbah Moen ini betah banget kalau ngobrolin tentang bangsa dan negara. Bisa semalam suntuk, sampai subuh hingga lupa jam tidur. Kelakar itu disampaikan sang gubernur saat bersilaturahmi sekaligus meminta do’a untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jawa Tengah.
Wejangannya untuk Ganjar Pranowo kala itu agar ia terus menggaungkan demokrasi yang sehat tanpa menjatuhkan rival dalam pilkada nanti. “Posisi yang kamu duduki ini adalah kursi seorang pemimpin, jangan sekali-kali menodai demokrasi negara ini”, begitu kira-kira bunyinya.
Pesan itu nyatanya kembali termuat di memori kepala gubernur dua periode itu. Ya, tahun 2023 ini menjadi tahun krusial menyambut tahun politik 2024 nanti. Hoax, SARA, dan fitnah akan berkeliaran menyerang tanpa kenal arah.
Lha wong, kampanye belum dimulai saja hal-hal itu sudah dikeluarkan untuk membunuh karakternya sebagai politisi ulung, apalagi nanti saat waktu kampanye pilpres 2024 tiba.
Pasti ketiganya akan semakin membumbung tinggi. Kita sebagai kaum milenial harus memperkaya sekaligus mempertebal literasi. Ya, menggalakkan upaya agar tidak termakan berita hoax dan semacamnya adalah suatu keharusan untuk anak jaman now. Lebih tepatnya harus “Saring Before Share”, kawan.
Kita sebagai generasi muda harapan bangsa harus lebih jeli terhadap berita-berita yang tengah beredar, apalagi tentang huru-hara yang banyak terjadi di dunia politik ini.
Mbah Moen sudah mewanti-wanti partner kerja anaknya itu, agar tidak menjatuhkan rival dengan hal yang tidak bermartabat.
Ganjar memang sudah menjadi langganan sebagai seorang yang tertuduh, bahkan fitnah kejam pernah menyeret namanya.
Kala itu ada kasus E-KTP yang terkadang masih disinggung para buzzer. Tapi kawan yang namanya fitnah nggak akan bertahan lama, kebenaran itu datang tepat pada waktunya.
Ya, selalu ada bukti yang mengatakan bahwa kasus korupsi E-KTP yang melayang di pundaknya itu hanyalah bentuk pembunuhan karakternya saja.
Balas perlakuan buruk itu dengan kebaikan, dan jangan sekali-kali menyakiti orang, itu yang juga menjadi penekanan Mbah Moen.
Ia menjadi sasaran empuk atas kehoaxan, sekaligus fitnah, karena memang dirinya ini tidak mau diajak bekerja sama dengan bedebah sialan di muka negara ini. Lantas apa yang membuat orang satu ini bertahan di tengah gerusan orang yang nyaris mematikannya?
Ibunya, keluarga, Mbah Moen, dan orang-orang baik di belakang Ganjar terus menguatkannya agar tetap berdiri kokoh dengan karakternya. Menolak tumbang walau angin besar menerpa, begitu kira-kira slogannya.
Dan kini posisi sosok jangkung itu bukan hanya pemimpin untuk sebuah provinsi lagi, melainkan calon pemimpin sebuah negara. Mereka yang telah gugur karena time is up akan terus ada dalam memori seorang Ganjar Pranowo. Walaupun Mbah Moen sudah tiada namun pesan warisannya terpatri manis di benak sang capres.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar